Langsung ke konten utama

MAKALAH
OSEANOGRAFI FISIKA








                                 NAMA      : PRAGIL SEPRIANDI PUTRA
                                 NIM           : 1610713110008
                                 PRODI      : PEMANFAATAN SUMBERDAYA
                                                      PERIKANAN















KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU






BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Oceanografi adalah kombinasi dari kedua kata yunani: Oceanus (samudera) dan Graphos (uraian/deskripsi) sehingga oceanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup oceanografi pada kenyataannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera, karena karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan. Pada makalah ini akan lebih membahas tentang oceanografi fisika di laut.
Oseanografi fisika merupakan konsentrasi ilmu oseanografi yang mempelajari segala sesuatu tentang kejadian fisika yang terjadi di lautan. Tim Muara Kakap (2005) menyatakan bahwa aspek fisika itu sendiri meliputi suhu, arus, pasang surut, gelombang dan lain-lain. Metoda oseanografi fisika meliputi pengamatan pasang surut dan pengukuran arus yang telah dilakukan sebelumnya pada saat praktik lapang di Desa Teluk Tamiang.
Oseanografi fisika merupakan ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian fisika yang ada di laut seperti pasang surut, arus dan gelombang. Pasang surut merupakan gerakan massa air secara horizontal maupun vertikal dalam skala besar sehingga terjadi perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sedangkan gelombang adalah gerak naik turunnya air laut secara vertikal yang disebabkan oleh angin.
Dari kejadian-kejadian fisika tersebut, kita dapat mengetahui seberapa besar kekuatan terjadinya peristiwa arus, pasang surut maupun gelombang disuatu perairan serta dapat memprediksi kemungkinan terjadinya pasang surut, arus dan gelombang beserta arah dan kecepatan sertra faktor apa yang mempengaruhinya.
1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah oseanografi fisika dari materi pasang surut, arus serta gelombang adalah sebagai berikut :
·      Pasang surut
1.      Mengetahui perubahan pasang surut selama 1x24 jam.
2.      Mengetahui tipe pasang surut di lokasi praktik.
3.      Melakukan perhitungan pasang surut tertinggi dan terendah.
4.      Mahasiswa dapat menjelaskan fenomena pasang surut yang terjadi.
·      Gelombang
1.      Mengetahui gelombang tertinggi dan terendah dengan melakukan analisi data menggunakan rumus perhitungan gelombang.
2.      Menjelaskan fenomena gelombang.
·      Arus
1.      Mengetahui arah arus perairan di lokasi praktik.
2.      Mengetahui kecepatan arus tertitnggi dan terendah yang terjadi di lokasi praktik.




BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Lokasi Pengamatan
            Perairan Teluk Tamiang merupakan wilayah perairan Desa Teluk Tamiang Kecamatan Pulau Laut Barat Kabupaten Kotabaru. Desa Teluk Tamiang terletak pada 04° 03’ 103’’LS 116° 03’ 057’’ BT yang memiliki batas-batas sebagai berikut :
·      Sebelah Utara dengan Desa Gosong Panjang
·      Sebelah Selatan dengan Tanjung Kunyit (Laut Jawa)
·      Sebelah Timur dengan Tanjung Sungkai, Tanjung Pelayar dan Tanjung Tengah (Selat Makasar)
·      Sebelah Barat dengan Laut Jawa
Desa Teluk Tamiang memiliki luas daratan sebesar 380 ha besar berupa lahan perairan laut sekitar 5.500 ha (Pemkab, 2005). Sebaran lahan daratan sebagian besar berupa lahan perikanan air tawar 72 ha (18,95 %), rawa 64 ha (16,84 %), mangrove 57 ha (15 %) dan lahan perkebunan 55 ha (14,47 %). (Tabel 1).
Tabel 1. Sebaran Lahan Daratan Desa Teluk Tamiang Tahun 2004
No.
Jenis Lahan
Luas
(ha)
(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Perikanan darat/tawar
Rawa
Hutan mangrove
Perkebunan
Pemukiman dan bangunan lain/fasilitas umum
Padang ilalang/tanah krisis
Padang rumput/stepa/ladang gembalaan
Pertanian sawah
Hutan milik warga masyarakat (suku)
Ladang/tegalan
Rekreasi dan olah raga
72
64
57
55
46
28
23
17
8
5
5
18,95
16,84
15
14,47
12,11
7,37
6,05
4,47
2,10
1,32
1,32

Total
380
100
Sumber : Pemkab (2005)
            Di  Desa Teluk Tamiang belum terdapat aktifitas industri yang dapat mempengaruhi perairan Teluk Tamiang melalui buangan-buangan limbah industri. Aktifitas-aktifitas perkebunan dan pertanian, keberadaan pemukiman (12,11 %) yang memiliki pengaruh langsung dan berbagai aktifitas lainnya di darat berkemungkinanan mempengaruhi perairan teluk tersebut melalui penggunaan pupuk dan atau insetisida, hanya belum diketahui besaran pengaruh aktifitas-aktifitas pertanian dan perkebunan tersebut.
            Wilayah Kabupaten Kotabaru dengan luas 14.489,69 km2 memiliki batas-batas sebagai berikut :
·      Sebelah Utara dengan Propinsi Kalimantan Timur
·      Sebelah Selatan dengan Laut Jawa
·      Sebelah Timur dengan Selat Makasar
·      Sebelah Barat dengan Kabupaten Tanah Laut, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah
Sungai yang bermuara ke Teluk Tamiang adalah Sungai Gosong Panjang dan berair ketika musim penghujan. Berdasarkan penetapan tipe iklim kabupaten ini termasuk daerah dengan klasifikasi A dimana curah hujan berkisar antara 1.500-3.000 mm dengan curah hujan tertinggi sekitar Bulan Oktober-April dan curah hujan terendah sekitar Bulan Juni-September (Diskanlut, 2004).
   Sebagai kawasan pesisir daerah ini memiliki garis pantai terdiri dari pantai berpasir, yang merupakan akumulasi dari terpaan energi gelombang mengandung pasir dan terumbu karang tepi. Kawasan ini memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup besar. Potensi sumberdaya laut dan air tawar perikanan yang dimiliki Kabupaten Kotabaru cukup besar yaitu 98.410 ton/tahun yang terdiri dari potensi lestari perairan laut 57.600 ton/tahun dengan luas perairan 38.490 km2, perairan umum 23.181 ton/tahun dengan luas areal 168.050 ha, budidaya air payau (tambak) 26.450 ton/tahun dengan luas areal yang memungkinkan untuk dijadikan tambak 52.900 ha serta budidaya air tawar (kolam) sebesar 22 ton/tahun dengan luas areal 46 ha (Diskanlut, 2004).
            Aktifitas penduduk dominan berorentiasi ke pesisir dan laut seperti penangkapan ikan, budidaya ikan/rumput laut, transportasi dan lain-lain. Pemda Kabupaten Kotabaru juga memiliki program pembangunan yang berorentiasi ke pesisir laut. Hal ini tercantum dalam Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Kabupaten antara lain ; pengembangan agribisnis/aquabisnis, pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pembinaan daerah pesisir dan pulau pulau kecil. Sasaran yang akan dicapai Pemda ini antara lain meliputi ; pengembangan produk-produk unggulan daerah (seperti rumput laut, kerapu dan udang), pengembangan sistem informasi potensi kelautan dan perikanan, pemberdayaan petani-petani ikan/nelayan serta peningkatan perlindungan dan pelestarian terumbu karang dan biota laut lainnya (Diskanlut Kotabaru, 2004).
2.2. Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pasang surut dan arus yang dibangkitkan pasang surut sangat dominan dalam proses sirkulasi massa air di perairan pesisir (Duxbury et al., 2002 dalam Arifin dkk. 2012).
Pasang surut adalah fluktuasi (gerakan naik turunnya) muka air laut secara berirama karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama bulan dan matahari terhadap massa air laut di bumi. Bulan dan matahari memberikan gaya gravitasi terhadap bumi yang besarnya tergantung pada besar massa benda yang saling tarik-menarik tersebut. Massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap bumi jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar dari pada pengaruh gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar dari pada gaya tarik matahari (Triatmodjo, 1999 dalam Mahatmawatidkk., 2009).
Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit. Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus. Pada saat tersebut terjadi pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat tersebut terjadi pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pada saat bulan ¼ dan ¾ (Musrifin, 2012).
Pasang purnama atau pasang perbani (spring tide) terjadi ketika kedudukan bulan segaris dengan matahari, yakni pada saat Bulan Purnama dan saat Bulan Mati. Pada saat pasang purnama ini terjadi julat pasur terbesar, sehingga terjadi pula kedudukan muka laut tinggi tertinggi (highest high water) dan kedudukan muka laut tendah terendah (lowest low water). Pasang mati (neap tide) terjadi ketika seperempat bulan awal dan seperempat bulan akhir. Pada saat berlangsung pasang mati terjadi julat pasut terkecil (Hutabarat dan Evans, 1985; Duxbury et al., 2002; Sunarto, 2004; Bird, 2006 dalam Sanjoto, 2012).
Tipe pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya. Suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, kawasan tersebut dikatakan bertipe pasang surut harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, maka tipe pasang surutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides). Tipe pasang surut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasang surut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal (Musrifin, 2012).
Menurut Wibisono (2005) dalam Surinati (2007), menjelaskan bahwa sebenarnya ada Tiger tipe dasar pasang-surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu sebagai berikut :
1. Pasang-surut tipe harian tunggal (diurnal type) : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
2. Pasang-surut tipe tengah harian/harian ganda (semi diurnal type) : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3. Pasang-surut tipe campuran (mixed tides) : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasang surut di suatu perairan seperti, topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Diposaptono 2007 dalam Nasution, 2013).
2.3. Gelombang
            Gelombang laut dapat diartikan sebagai deretan pulsa-pulsa yang berurutan yang terlihat sebagai perubahan ketinggian permukaan air laut yaitu dari elevasi maksimum (puncak) ke elevasi minimum / rendah.Istilah dari bagian-bagian selain yang diantaranya adalah crest, through, waveheight, wavelength, waveperiod dan steepness (Lanuru, 2011).
Pada hakikatnya fenomena gelombang laut menggambarkan trans emisi dari energy dan momentum. Gelombang laut selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang sekali dalam keadaan sama sekali diam. Dalam keadaan dimana badai besar dapat menimbulkan suatu gelombang yang sangat besar (Azis, 2006).
Gelombang laut umumnya timbul karena pengaruh angin, walaupun ada faktor lain seperti aktivitas seismic (gempa) dalam laut, letusan gunung berapi bawah laut, gerakan kapal dan gaya tarik menarik benda angkasa (Bulan dan Matahari). Gelombang juga dapat terjadi di dalam lapisan dalam (memiliki densitas yang berbeda pada lapisan bidang antara dua lapisan air) (Nining, 2002 dalam Azis, 2006).
Menurut Hutabarat dan Evans (1985), gelombang laut diantaranya di pengaruhi oleh :
a.    Kecepatan angin, jika kecepatan angina tinggi maka gelombang yang terbentuk juga akan semakin besar
b.    Waktu dimana angin bertiup, kecepatan, dan panjang gelombang cenderung meningkat, sesuai meningkatnya waktu
c.    Jarak tanpa rintangan, tanpa angina selang bertiup, gelombang yang terbentuk di danau dimana fetch kemungkinan lebih besar, seiring panjang gelombang.
2.4. Arus
            Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat ke tempat yang lain. Arus terjadi dimana saja dilaut. Pada hakekatnya energi yang menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan pemanasan menimbulkan pola perbedaan energi yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yg menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan energi diseluruh bumi (Azis, 2006).
Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan di dunia. Arus-arus ini mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan arah pelayaran bagi kapal-kapal. Gerakan air dipermukaan laut terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya (Hutabarat dan Evans,1985).
Menurut Pond dan Pickard (1983) arus berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu :
a)    Gerakan dorongan angin
Angin adalah factor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali.
b)   Gerakan termohalin
Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salinitas anatara 2 massa air  yang densitasnya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c)    Arus Pasut
Arus yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dan benda benda angkasa. Arus pasut ini merupakan arus yang gerakannya horizontal.
d)   Turbulensi
Suatu gerakan yang terjadi pada lapisan batas air dan terjadi karena adanya gaya gesekan antar lapisan. 
e)    Tsunami
Sering disebut sebagai gelombang seismic yang dihasilkan dari pergeseran dasar laut saat etrjadi gempa.
f)    Gelombang lain ; Internal, Kelvin dan Rossby/Planetary




BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Pasang Surut
Data hasil pengukuran pasang surut adalah sebagai berikut :
A.  Hasil Pengukuran Pasang Surut
Tabel 2. Hasil Pengukuran Pasang Surut Perairan Teluk Tamiang
No.
Jam
Tinggi Muka Air
(cm)
No.
Jam
Tinggi Muka Air
(cm)
1
14:00
80
13
02:00
190
2
15:00
121
14
03:00
195
3
16:00
154
15
04:00
180
4
17:00
190
16
05:00
197
5
18:00
220
17
06:00
195
6
19:00
245
18
07:00
176
7
20:00
240
19
08:00
170
8
21:00
232
20
09:00
150
9
22:00
225
21
10:00
92
10
23:00
217
22
11:00
73
11
00:00
200
23
12:00
54
12
01:00
195
24
13:00
67
Gambar 1. Diagram Tinggi Muka Air
B.  Menghitung Pasang Tertinggi, Surut Terendah, Tunggang Pasut dan Muka Air Laut Rata-rata
·      Pasang tertinggi = 245 cm
·      Surut terendah   = 54  cm
·      Tunggang pasut = 191 cm
Berdasarkan hasil perhitungan pasang surut di Desa Teluk Tamiang, pasang tertinggi yang terjadi didaerah tersebut yaitu 245 cm pada pukul 19:00 WITA. Air pasang di Desa Teluk Tamiang ini terjadi satu kali dalam 1 hari, lama waktu berlangsungnya pasang terjadi pada pukul 18.00 – 01.00, air laut terus mengalami pasang selama 9-10 jam dalam 24 jam. Berdasarkan grafik pasang surut di atas,  air mulai surut pada jam 00.00 – 02.00, kemudian kembali netral dan surut pada pagi hingga sore hari, kemudian air kembali mengalami pasang pada jam 18.00 hingga mencapai puncak pasang tertinggi, yaitu pada jam 19.00 WITA. Pasang ini dipengaruhi oleh angin dan penyinaran oleh cahaya bulan. Sedangkan surut terendah yaitu 54 cm yang terjadi pada pukul 12:00 WITA. Hal ini dapat terjadi yang diakibatkan oleh penyinaran matahari, karena pada jam 14.00-15.00 merupakan waktu dari sepertiga kemunculan matahari pada rotasi bumi selama 24 jam. Kemudian  tunggang pasut (range of tide)adalah beda tinggi air tinggi dengan air rendah sebelum atau sesudahnya, memiliki nilaiyaitu 191 cm.
C.   Menjelaskan Fenomena Pasang Surut yang Terjadi Di Lokasi Studi
Pasang surut yang terjadi di wilayah perairan Desa Teluk Tamiang  adalah bentuk dari aktifitas gaya tarik menarik dan kombinasi gaya gravitasi dari matahari, bulan dan bumi yang membentuk pola pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala. Pengukuran dimulai pada tanggal 27 Desember  2018. Dari hasil pengukuran pasang surut di wilayah tersebut, pasang surut terjadi kisaran dua kali pasang dan dua kali surutdua kali sehari tetapi tinggi periodenya berbeda, dengan pasang tertinggi 245 cm dan surut terendah 54 cm.
Pasang tertinggi terjadi pada tanggal 27 Desember 2018 pada jam 19:00 dengan kisaran angka mencapai 245 cm atau 2,45 m dan surut terendah terjadi sekitar pukul 12:00 dengan kisaran angka 54 cm atau 0,54 m.
3.2. Gelombang
            Pengukuran gelombang dilakukan pada 2 stasiun. Data hasil pengukuran gelombang adalah sebagai berikut:
A.  Stasiun 1
Titik koordinat 116o 2’ 54’’ BT   4o 2’ 37’’ LS 
Jam 16:29 WITA
Tabel 3. Tinggi Gelombang Staisun 1
No Gel.
Puncak (cm)
Lembah (cm)
Tinggi  (m)
Periode (T)
No. Urut
Tinggi (m)
Periode (T)
1
25
18
0,07
4,29
1
0,14
4,29
2
20
15
0,05
2
0,13
3
25
19
0,06
3
0,13
4
23
17
0,06
4
0,13
5
21
11
0,1
5
0,12
6
30
23
0,07
6
0,12
7
25
17
0,08
7
0,12
8
23
16
0,07
8
0,12
9
22
14
0,08
9
0,10
10
20
15
0,05
10
0,10
11
25
13
0,12
11
0,10
12
24
12
0,12
12
0,09
13
24
17
0,07
13
0,08
14
20
13
0,07
14
0,08
15
21
16
0,05
15
0,08
16
25
18
0,07
16
0,07
17
26
13
0,13
17
0,07
18
20
15
0,05
18
0,07
19
15
10
0,05
19
0,07
20
23
13
0,1
20
0,07
21
27
14
0,13
21
0,07
22
23
18
0,05
22
0,07
23
25
13
0,12
23
0,06
24
23
10
0,13
24
0,06
25
20
14
0,06
25
0,06
26
27
19
0,08
26
0,05
27
28
14
0,14
27
0,05
28
29
17
0,12
28
0,05
29
27
18
0,09
29
0,05
30
25
15
0,1
30
0,05
31
25
18
0,07
31
0,05
·      Tinggi gelombang signifikan :            
)
 (1,31)
     Hs  = 0,127 m
·      Tinggi gelombang rata-rata :
=
 = 0,084 m
·      Periode gelombang signifikan: 
t      =  2 menit 13 detik = 133 detik
n     = 31
t/n
Ts     
Ts   =  4,29 s
·      Panjang gelombang:
L = 1,56 x Ts2
L = 1,56 x 4,292
L = 1,56 x 18,41    
L = 28,715 m
·      Energi gelombang :
    =
         = 0,0203 Joule
B.       STASIUN 2
Titik Koordinat : 4002’54,704”S - 116003’02,621”E
Jam : 08:37
Tabel 4. Tinggi Gelombang Staisun 2
No. Gelombang
Puncak (cm)
Lembah
(cm)
Tinggi
(m)
Periode
(Detik)
No
Urut
Tinggi
(m)
Periode
(T)
1
40
25
0,43















7,74
1
0,53















7,74
2
40
25
0,35
2
0,46
3
28
25
0,44
3
0,46
4
32
25
0,40
4
0,45
5
34
24
0,32
5
0,44
6
35
25
0,53
6
0,43
7
37
25
0,42
7
0,43
8
35
23
0,39
8
0,42
9
40
21
0,36
9
0,42
10
40
24
0,35
10
0.42
11
41
26
0,38
11
0,41
12
42
26
0,36
12
0,41
13
45
20
0,41
13
0,41
14
44
26
0,33
14
0,40
15
31
24
0,37
15
0,40
16
32
24
0,43
16
0,39
17
36
25
0,39
17
0,39
18
38
25
0,35
18
0,38
19
35
24
0,25
19
0,38
20
38
28
0,36
20
0,37
21
37
24
0,41
21
0,36
22
36
27
0,41
22
0,36
23
34
24
0,38
23
0,36
24
45
24
0,33
24
0,35
25
37
25
0,34
25
0,35
26
45
23
0,46
26
0,35
27
40
20
0,42
27
0,34
28
29
25
0,46
28
0,33
29
44
23
0,45
29
0,33
30
34
24
0,40
30
0,32
31
40
23
0,42
31
0,25

·      Tinggi gelombang signifikan :        
0,53 + 0,46 + 0,46 + 0,45 + 0,44 + 0,43 + 0,43 + 0,42 + 0,42 + 0,42 +     0,41)
 (4,37)
Hs     = 0,42 m
·      Tinggi Gelombang Rata - rata
 
= 0,39 m
·      Periode gelombang signifikan
T = 4 menit= 240 detik
T = t/n
T =  Detik
·      Panjang Gelombang
L     = 1,56 × T 2
L = 1,56 X 7,742
L = 1,56 X 59,90
L = 93,46 m
·      Sudut Datang Gelombang
 atau
 = 176o - 137o = 39o
·      Energi Gelombang
E=  = 1,77 joule
A.  Gelombang tertinggi dan terendah
            Hasil pengukuran Gelombang di Desa Teluk Tamiang pada tanggal 27 November 2018 dilakukan 2 stasiun dan di setiap stasiunnya diambil 31 kali pengamatan. Tinggi gelombang pada stasiun 1 yaitu 0,084 m dan tinggi signifikan 0,127 m dengan periode gelombang 4,29 s. Sedangkan Tinggi rata-rata gelombang pada stasiun 2 yaitu 0,39 m. Dan tinggi signifikan 0,42 m dengan periode gelombang  7,74 s.
Kemudian data yang didapatkan secara insitu diolah untuk mendapatkan nilai tinggi gelombang rata-rata (Hr), tinggi gelombang signifikan (Hs), periode gelombang signifikan dan panjang gelombang (L). Dari hasil pengolahan data gelombang diperoleh tinggi gelombang rata-rata (Hr) 2 stasiun pengamatan selama 31 kali pengamatan, berkisar antara (0,089 - 0,42 m), dengan arah datang gelombang sejajar terhadap garis pantai.
B.  Fenomena gelombang di perairan Desa Teluk Tamiang
Bentuk gelombang di perairan Desa Teluk Tamiang yang dihasilkan cenderung tidak menentu, bentuk gelombang tergantung pada beberapa sifat gelombang, periode dan tinggi dimana gelombang dibentuk. Gelombang yang terbentuk akan bergerak ke luar menjauhi pusat asal gelombang dan merambat ke segala arah, serta melepaskan energinya ke pantai dalam bentuk empasan gelombang. Atau partikel – partikel pecahan air yang berwarna putih. Rambatan gelombang ini dapat menempuh jarak ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai, jenis gelombang ini disebut (Swell).
Gelombang yang terjadi di perairan Desa Teluk Tamiang dibentuk oleh angin yang berhembus di tengah lautan dari arah selatan. Pada bulan November sampai Februari angin berhembus dari benua Australia menuju benua Asia, karena pada bulan November- Februari benua Australia mengalami iklim panas dan benua Asia terjadi iklim dingin, sehingga angin berhembus kencang dari arah selatan benua Australia ke utara Asia.
3.3. Arus
Berikut adalah hasil data pengukuran kecepatan arus perairan Laut Teluk Tamiang.
Tabel 5. Kondisi Arus Perairan Laut Teluk Tamiang.
No.
Posisi
Jam
Arah
(o)
Jarak (m)
Waktu (detik)
Kecepatan (m/detik)
Bujur (BT)
Lintang (LS)
1
116,05973
-4,064758
15:22
210
5
258
0,0194
2
116,05984
-4,064733
15:27
212
5
227
0,0220
3
116,05973
-4,064723
14:53
207
5
182
0,0275
4
116,05994
-4,064685
15:06
215
5
83
0,0602
5
116,05427
-4,048066
14:52
205
5
182
0,0275
6
116,05403
-4,048094
15:00
217
5
170
0,0294
7
116,07474
-4,048897
17:10
203
5
183
0,0273
8
116,07462
-4,048885
17:15
202
5
171
0,0292
9
116,04287
-4,048335
14:58
217
5
154
0,0325
10
116,04285
-4,048344
15:09
209
5
168
0,0298
Gambar 2. Peta Sebaran Arus
Berdasarkan pengamatan arah arus di Desa Teluk Tamiang, telah didapatkan hasil arah arus antara 2020 (Selatan barat daya) sampai 2170 (Selatan barat daya di kanan jarum pendek) dengan kecepatan arus tertinggi 0.0602 m/s pada pukul 15:06, sedangkan kecepatan arus perairan terendah 0,0194 m/s pada pukul 15:22. Tinggi kecepatan arus disebabkan oleh tingginya kecepatan angin di atas permukaan laut dapat dilihat pada tabel 4 di atas.
Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut. Menurut suhunya kita mengenal adanya arus panas dan arus dingin. Arus panas adalah arus yang bila suhunya lebih panas dari daerah yang dilalui. Sedangkan arus dingin adalah arus yang suhunya lebih dingin dari daerah yang dilaluinya.
Pergerakan massa air ini ditimbulkan oleh beberapa gaya sehingga sinyal arus merupakan resultan dari berbagai sinyal yang mempunyai frekuensi terstentu yang dibangkitkan oleh beberapa gaya yang berbeda-beda. Ada dua jenis gaya utama yang penting dalam proses gerak (motion) yakni gaya primer dan sekunder. Gaya primer merupakan gaya yang menyebabkan gerak (motion) antara lain: gravitasi, wind stress, tekanan atmosfer, dan seismic. Sedangkan gaya sekunder merupakan gaya yang muncul akibat adanya gerak (motion) antara lain: gaya Coriolis dan gesekan (friction).

BAB 4. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
            Kesimpulan yang didapat pada makalah oceanografi fisika ini adalah sebagai berikut :
1.      Pasang tertinggi terjadi di Desa Teluk Tamiang pada jam 19:00 dengan kisaran angka mencapai 245 cm atau 2,45 m dan surut terendah terjadi sekitar pukul 12:00 dengan kisaran angka 54 cm atau 0,54 m. Jenis pasang surut Desa Teluk Tamiang bertipe harian tunggal, tetapi lebih condong ke pasang surut tipe campuran tunggal (Mixed tide prevailing diurnal)
2.      Pengukuran gelombang dilakukan 31 kali pengamatan. Gelombang yang terjadi pada stasiun 1 mencapai angka tinggi rata-rata 0,084 m, tinggi signifikan 0,127 m dan periode gelombang 4,29 s. Sedangkan tinggi rata-rata gelombang pada stasiun 2 yaitu 0,39 m, tinggi signifikan 0,42 m dan periode gelombang 7,74 s. Hasil pengolahan data gelombang diperoleh tinggi rata-rata gelombang dari 2 stasiun berkisar antara 0,089 – 0,94 m) dengan arah gelombang sejajar dengan garis pantai.
3.      Arah arus yang berhasil didapat berkisar antara 2020 (selatan barat daya) sampai 2170 (selatan barat daya di kanan jarum pendek) dengan kecepatan arus tertinggi 0,0602 m/s pada pukul 15:06 dan kecepatan arus terendah 0,0194 m/s pada pukul 15:22. Kecepatan arus disebabkan oleh tinggi rendahnya kecepatan angin di atas permukaan air.
4.2. Saran
            Diharapkan agar pada saat mengerjakan makalah atau laporan agar lebih teliti dan dipelajari. Hal ini bertujuan agar mahasiswa mengerti dengan materi yang dibahas pada makalah yang dibuat.


DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Taslim., Yulius dan M. Furqon Azis Ismail. 2012. Kondisi Arus Pasang Surut di Perairan Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jakarta : LIPI.
Azis, M. Furqon. 2006. Gerak Air di Laut. Jurnal Oseana. Volume 31:4 (9 – 21).
Diskanlut Kotabaru, 2004. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kebupaten Kotabaru Tahun 2004. Pemkab Kotabaru 2005. 50 hal.
Hutabarat, S. Dan Steward M. E. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta : UI Press.
Lanuru, Mahatma dan Suwarni. 2011. Pengantar Oseanografi. Makassar : Universitas Hasanuddin
Mahatmawati, Anugrah Dewi, Mahfud Efendy, Aries Dwi Siswanto, Zainul Hidayah dan Wahyu Andy Nugraha. 2009. Perbandingan Fluktuasi Muka Air Laut Rerata (MLR) di Perairan Pantai Utara Jawa Timur dengan Perairan Pantai Selatan Jawa Timur. Jurnal Kelautan. Volume 2:1.
Musrifin. 2012. Analisis dan Tipe Pasang Surut Perairan Pulau Jemur Riau. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Volume 40:1.
Nasution, Sri Bulan. 2013. Hubungan Kualitas Air Saat Pasang dan Surut Serta Karakteristik Penggunaan Air Sungai Silau Hilir terhadap Gastroenteritis di Kecamatan Tanjung Balai Utara Kota Tanjung Balai. Medan : Universitas Sumatera Utara.
Pemkab Kotabaru, 2005. Program Pembangunan Daerah Kotabaru Tahun 2001-2005. Bappeda Kabupaten Kotabaru. 177 hal.
Pond and Pickard. 1983. Introductory Dynamical Oceanography, second ed.. Pergamon Press, Oxford : 329 pp.
Sanjoto, Tjaturahono Budi. 2012. Perubahan Spasial Delta Sungai Bodri Sebagai Basis Zonasi Tata Ruang Pesisir Kabupaten Kendal. Semarang : Universitas Diponegoro.
Sudjono, Evie H., A. Setiawan, S. Hadi, dan N. S. Ningsih. 2011. Studi Komponen Pasang Surut Perairan Dangkal (Over And Compound Tides) Model Kanal 1 Dimensi dengan menggunakan Metoda Asimilasi Data Variasional. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Volume 3:1 (1 – 12).
Surinati, Dewi. 2007. Pasang Surutnya dan Energinya. Jurnal Oseana. Volume 32:1 (15 – 22).


Komentar