MAKALAH
OSEANOGRAFI FISIKA

NAMA :
PRAGIL SEPRIANDI PUTRA
NIM : 1610713110008
PRODI : PEMANFAATAN SUMBERDAYA
PERIKANAN
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN
TINGGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Oceanografi adalah kombinasi dari kedua kata yunani:
Oceanus (samudera) dan Graphos (uraian/deskripsi) sehingga oceanografi
mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup oceanografi pada
kenyataannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera, karena karena
samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan.
Pada makalah ini akan lebih membahas tentang oceanografi fisika di laut.
Oseanografi fisika merupakan konsentrasi ilmu oseanografi
yang mempelajari segala sesuatu tentang kejadian fisika yang terjadi di lautan.
Tim Muara Kakap (2005) menyatakan bahwa aspek fisika itu sendiri meliputi suhu,
arus, pasang surut, gelombang dan lain-lain. Metoda oseanografi fisika meliputi
pengamatan pasang surut dan pengukuran arus yang telah dilakukan sebelumnya
pada saat praktik lapang di Desa Teluk Tamiang.
Oseanografi fisika merupakan ilmu yang mempelajari
kejadian-kejadian fisika yang ada di laut seperti pasang surut, arus dan
gelombang. Pasang surut merupakan gerakan massa air secara horizontal maupun
vertikal dalam skala besar sehingga terjadi perpindahan dari satu tempat ke
tempat lainnya. Sedangkan gelombang adalah gerak naik turunnya air laut secara
vertikal yang disebabkan oleh angin.
Dari kejadian-kejadian fisika tersebut, kita dapat
mengetahui seberapa besar kekuatan terjadinya peristiwa arus, pasang surut
maupun gelombang disuatu perairan serta dapat memprediksi kemungkinan
terjadinya pasang surut, arus dan gelombang beserta arah dan kecepatan sertra
faktor apa yang mempengaruhinya.
1.2.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah oseanografi fisika dari
materi pasang surut, arus serta gelombang adalah sebagai berikut :
·
Pasang surut
1.
Mengetahui perubahan pasang surut selama 1x24 jam.
2.
Mengetahui tipe pasang surut di lokasi praktik.
3.
Melakukan perhitungan pasang surut tertinggi dan
terendah.
4.
Mahasiswa dapat menjelaskan fenomena pasang surut yang
terjadi.
·
Gelombang
1.
Mengetahui gelombang tertinggi dan terendah dengan
melakukan analisi data menggunakan rumus perhitungan gelombang.
2.
Menjelaskan fenomena gelombang.
·
Arus
1.
Mengetahui arah arus perairan di lokasi praktik.
2.
Mengetahui kecepatan arus tertitnggi dan terendah yang
terjadi di lokasi praktik.
BAB 2. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Lokasi Pengamatan
Perairan Teluk
Tamiang merupakan wilayah perairan Desa Teluk Tamiang Kecamatan Pulau Laut
Barat Kabupaten Kotabaru. Desa Teluk Tamiang terletak pada 04° 03’ 103’’LS 116°
03’ 057’’ BT yang memiliki batas-batas sebagai berikut :
·
Sebelah
Utara dengan Desa Gosong Panjang
·
Sebelah
Selatan dengan Tanjung Kunyit (Laut Jawa)
·
Sebelah
Timur dengan Tanjung Sungkai, Tanjung Pelayar dan Tanjung Tengah (Selat
Makasar)
·
Sebelah
Barat dengan Laut Jawa
Desa Teluk Tamiang
memiliki luas daratan sebesar 380 ha besar berupa lahan perairan laut sekitar
5.500 ha (Pemkab, 2005). Sebaran lahan daratan sebagian besar berupa lahan
perikanan air tawar 72 ha (18,95 %), rawa 64 ha (16,84 %), mangrove 57 ha (15
%) dan lahan perkebunan 55 ha (14,47 %). (Tabel 1).
Tabel 1. Sebaran Lahan Daratan Desa
Teluk Tamiang Tahun 2004
No.
|
Jenis Lahan
|
Luas
|
|
(ha)
|
(%)
|
||
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
|
Perikanan darat/tawar
Rawa
Hutan mangrove
Perkebunan
Pemukiman dan bangunan lain/fasilitas umum
Padang ilalang/tanah krisis
Padang rumput/stepa/ladang gembalaan
Pertanian sawah
Hutan milik warga masyarakat (suku)
Ladang/tegalan
Rekreasi dan olah raga
|
72
64
57
55
46
28
23
17
8
5
5
|
18,95
16,84
15
14,47
12,11
7,37
6,05
4,47
2,10
1,32
1,32
|
Total
|
380
|
100
|
|
Sumber : Pemkab (2005)
Di
Desa Teluk Tamiang belum terdapat aktifitas industri yang dapat
mempengaruhi perairan Teluk Tamiang melalui buangan-buangan limbah industri.
Aktifitas-aktifitas perkebunan dan pertanian, keberadaan pemukiman (12,11 %)
yang memiliki pengaruh langsung dan berbagai aktifitas lainnya di darat
berkemungkinanan mempengaruhi perairan teluk tersebut melalui penggunaan pupuk
dan atau insetisida, hanya belum diketahui besaran pengaruh aktifitas-aktifitas
pertanian dan perkebunan tersebut.
Wilayah Kabupaten Kotabaru dengan
luas 14.489,69 km2 memiliki batas-batas sebagai berikut :
·
Sebelah
Utara dengan Propinsi Kalimantan Timur
·
Sebelah
Selatan dengan Laut Jawa
·
Sebelah
Timur dengan Selat Makasar
·
Sebelah
Barat dengan Kabupaten Tanah Laut, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu
Sungai Tengah
Sungai yang bermuara ke Teluk Tamiang
adalah Sungai Gosong Panjang dan berair ketika musim penghujan. Berdasarkan
penetapan tipe iklim kabupaten ini termasuk daerah dengan klasifikasi A dimana
curah hujan berkisar antara 1.500-3.000 mm dengan curah hujan tertinggi sekitar
Bulan Oktober-April dan curah hujan terendah sekitar Bulan Juni-September
(Diskanlut, 2004).
Sebagai
kawasan pesisir daerah ini memiliki garis pantai terdiri dari pantai berpasir, yang
merupakan akumulasi dari terpaan energi gelombang mengandung pasir dan terumbu
karang tepi. Kawasan ini memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang cukup
besar. Potensi sumberdaya laut dan air tawar perikanan yang dimiliki Kabupaten
Kotabaru cukup besar yaitu 98.410 ton/tahun yang terdiri dari potensi lestari
perairan laut 57.600 ton/tahun dengan luas perairan 38.490 km2, perairan umum
23.181 ton/tahun dengan luas areal 168.050 ha,
budidaya air payau (tambak) 26.450 ton/tahun dengan luas areal yang
memungkinkan untuk dijadikan tambak 52.900 ha serta budidaya air tawar (kolam)
sebesar 22 ton/tahun dengan luas areal 46 ha (Diskanlut, 2004).
Aktifitas
penduduk dominan berorentiasi ke pesisir dan laut seperti penangkapan ikan,
budidaya ikan/rumput laut, transportasi dan lain-lain. Pemda Kabupaten Kotabaru
juga memiliki program pembangunan yang berorentiasi ke pesisir laut. Hal ini
tercantum dalam Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Kabupaten antara lain ;
pengembangan agribisnis/aquabisnis, pemanfaatan sumberdaya kelautan dan
perikanan serta pembinaan daerah pesisir dan pulau pulau kecil. Sasaran yang
akan dicapai Pemda ini antara lain meliputi ; pengembangan produk-produk
unggulan daerah (seperti rumput laut, kerapu dan udang), pengembangan sistem informasi
potensi kelautan dan perikanan, pemberdayaan petani-petani ikan/nelayan serta
peningkatan perlindungan dan pelestarian terumbu karang dan biota laut lainnya
(Diskanlut Kotabaru, 2004).
2.2.
Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan
naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi
gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan. Pasang surut dan arus yang dibangkitkan pasang surut
sangat dominan dalam proses sirkulasi massa air di perairan pesisir (Duxbury et
al., 2002 dalam Arifin dkk. 2012).
Pasang surut adalah fluktuasi (gerakan naik turunnya)
muka air laut secara berirama karena adanya gaya tarik benda-benda di langit,
terutama bulan dan matahari terhadap massa air laut di bumi. Bulan dan matahari
memberikan gaya gravitasi terhadap bumi yang besarnya tergantung pada besar
massa benda yang saling tarik-menarik tersebut. Massa bulan jauh lebih kecil
dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap bumi jauh lebih dekat,
maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar dari pada pengaruh
gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut adalah 2,2
kali lebih besar dari pada gaya tarik matahari (Triatmodjo, 1999 dalam
Mahatmawatidkk., 2009).
Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau
lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode
pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit. Pasang
purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam satu
garis lurus. Pada saat tersebut terjadi pasang tinggi yang sangat tinggi dan
pasang rendah yang sangat rendah. Pasang purnama ini terjadi pada saat bulan
baru dan bulan purnama. Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan
dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat tersebut terjadi pasang
tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini
terjadi pada saat bulan ¼ dan ¾ (Musrifin, 2012).
Pasang purnama atau pasang perbani (spring tide) terjadi
ketika kedudukan bulan segaris dengan matahari, yakni pada saat Bulan Purnama
dan saat Bulan Mati. Pada saat pasang purnama ini terjadi julat pasur terbesar,
sehingga terjadi pula kedudukan muka laut tinggi tertinggi (highest high water)
dan kedudukan muka laut tendah terendah (lowest low water). Pasang mati (neap
tide) terjadi ketika seperempat bulan awal dan seperempat bulan akhir. Pada
saat berlangsung pasang mati terjadi julat pasut terkecil (Hutabarat dan Evans,
1985; Duxbury et al., 2002; Sunarto, 2004; Bird, 2006 dalam Sanjoto, 2012).
Tipe pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang
dengan surut setiap harinya. Suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu
kali surut dalam satu hari, kawasan tersebut dikatakan bertipe pasang surut
harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali
surut dalam sehari, maka tipe pasang surutnya disebut tipe harian ganda
(semidiurnal tides). Tipe pasang surut lainnya merupakan peralihan antara tipe
tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasang
surut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan
tipe campuran dominasi tunggal (Musrifin, 2012).
Menurut Wibisono (2005) dalam Surinati (2007),
menjelaskan bahwa sebenarnya ada Tiger tipe dasar pasang-surut yang didasarkan
pada periode dan keteraturannya, yaitu sebagai berikut :
1. Pasang-surut tipe harian tunggal (diurnal type) : yakni bila dalam waktu
24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
2. Pasang-surut tipe tengah harian/harian ganda (semi diurnal type) : yakni
bila dalam waktu 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3. Pasang-surut tipe campuran (mixed tides) : yakni bila dalam waktu 24 jam
terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke
tipe harian ganda.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut
berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi
bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. berdasarkan teori
dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya
coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal
yang dapat mempengaruhi pasang surut di suatu perairan seperti, topografi dasar
laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi
memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Diposaptono 2007 dalam Nasution,
2013).
2.3. Gelombang
Gelombang laut dapat diartikan sebagai deretan
pulsa-pulsa yang berurutan yang terlihat sebagai perubahan ketinggian permukaan
air laut yaitu dari elevasi maksimum (puncak) ke elevasi minimum /
rendah.Istilah dari bagian-bagian selain yang diantaranya adalah crest,
through, waveheight, wavelength, waveperiod dan steepness (Lanuru, 2011).
Pada hakikatnya fenomena gelombang laut menggambarkan
trans emisi dari energy dan momentum. Gelombang laut selalu menimbulkan sebuah
ayunan air yang bergerak tanpa hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang
sekali dalam keadaan sama sekali diam. Dalam keadaan dimana badai besar dapat
menimbulkan suatu gelombang yang sangat besar (Azis, 2006).
Gelombang laut umumnya timbul karena pengaruh angin,
walaupun ada faktor lain seperti aktivitas seismic (gempa) dalam laut, letusan
gunung berapi bawah laut, gerakan kapal dan gaya tarik menarik benda angkasa
(Bulan dan Matahari). Gelombang juga dapat terjadi di dalam lapisan dalam
(memiliki densitas yang berbeda pada lapisan bidang antara dua lapisan air)
(Nining, 2002 dalam Azis, 2006).
Menurut Hutabarat dan Evans (1985), gelombang laut
diantaranya di pengaruhi oleh :
a.
Kecepatan
angin, jika kecepatan angina tinggi maka gelombang yang terbentuk juga akan
semakin besar
b.
Waktu
dimana angin bertiup, kecepatan, dan panjang gelombang cenderung meningkat,
sesuai meningkatnya waktu
c.
Jarak
tanpa rintangan, tanpa angina selang bertiup, gelombang yang terbentuk di danau
dimana fetch kemungkinan lebih besar, seiring panjang gelombang.
2.4. Arus
Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat ke
tempat yang lain. Arus terjadi dimana saja dilaut. Pada hakekatnya energi yang
menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan
pemanasan menimbulkan pola perbedaan energi yang diterima permukaan bumi.
Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yg menjadi mekanisme
untuk menyeimbangkan energi diseluruh bumi (Azis, 2006).
Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi
pada seluruh lautan di dunia. Arus-arus ini mempunyai arti yang sangat penting
dalam menentukan arah pelayaran bagi kapal-kapal. Gerakan air dipermukaan laut
terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya (Hutabarat dan
Evans,1985).
Menurut Pond dan Pickard (1983) arus berdasarkan
penyebabnya dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu :
a)
Gerakan
dorongan angin
Angin adalah factor yang membangkitkan arus, arus yang
ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman.
Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil
seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali.
b)
Gerakan
termohalin
Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu
dan salinitas anatara 2 massa air yang
densitasnya tinggi akan tenggelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai
arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c)
Arus
Pasut
Arus yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi
dan benda benda angkasa. Arus pasut ini merupakan arus yang gerakannya
horizontal.
d)
Turbulensi
Suatu gerakan yang terjadi pada lapisan batas air dan
terjadi karena adanya gaya gesekan antar lapisan.
e)
Tsunami
Sering disebut sebagai gelombang seismic yang dihasilkan
dari pergeseran dasar laut saat etrjadi gempa.
f)
Gelombang
lain ; Internal, Kelvin dan Rossby/Planetary
BAB 3. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1. Pasang Surut
Data hasil
pengukuran pasang surut adalah sebagai berikut :
A. Hasil Pengukuran Pasang Surut
Tabel 2. Hasil Pengukuran Pasang Surut Perairan
Teluk Tamiang
No.
|
Jam
|
Tinggi Muka Air
(cm)
|
No.
|
Jam
|
Tinggi Muka Air
(cm)
|
1
|
14:00
|
80
|
13
|
02:00
|
190
|
2
|
15:00
|
121
|
14
|
03:00
|
195
|
3
|
16:00
|
154
|
15
|
04:00
|
180
|
4
|
17:00
|
190
|
16
|
05:00
|
197
|
5
|
18:00
|
220
|
17
|
06:00
|
195
|
6
|
19:00
|
245
|
18
|
07:00
|
176
|
7
|
20:00
|
240
|
19
|
08:00
|
170
|
8
|
21:00
|
232
|
20
|
09:00
|
150
|
9
|
22:00
|
225
|
21
|
10:00
|
92
|
10
|
23:00
|
217
|
22
|
11:00
|
73
|
11
|
00:00
|
200
|
23
|
12:00
|
54
|
12
|
01:00
|
195
|
24
|
13:00
|
67
|

Gambar 1. Diagram Tinggi Muka Air
B. Menghitung Pasang Tertinggi, Surut Terendah, Tunggang Pasut
dan Muka Air Laut Rata-rata
· Pasang
tertinggi = 245 cm
· Surut
terendah = 54
cm
· Tunggang
pasut = 191 cm
Berdasarkan hasil
perhitungan pasang surut di Desa Teluk
Tamiang,
pasang tertinggi yang terjadi didaerah tersebut
yaitu 245 cm pada pukul 19:00 WITA. Air pasang di Desa
Teluk Tamiang ini terjadi satu kali dalam 1 hari, lama waktu berlangsungnya
pasang terjadi pada pukul 18.00 – 01.00, air laut terus mengalami pasang selama
9-10 jam dalam 24 jam. Berdasarkan grafik pasang surut di atas, air mulai surut pada jam 00.00 – 02.00, kemudian
kembali netral dan surut pada pagi hingga sore hari, kemudian air kembali
mengalami pasang pada jam 18.00 hingga mencapai puncak pasang tertinggi, yaitu
pada jam 19.00 WITA. Pasang ini dipengaruhi oleh angin dan penyinaran oleh
cahaya bulan. Sedangkan surut terendah yaitu 54 cm yang terjadi pada
pukul 12:00 WITA. Hal ini dapat terjadi yang diakibatkan
oleh penyinaran matahari, karena pada jam 14.00-15.00 merupakan waktu dari
sepertiga kemunculan matahari pada rotasi bumi selama 24 jam. Kemudian tunggang pasut (range of tide)adalah beda tinggi air
tinggi dengan air rendah sebelum atau sesudahnya, memiliki nilaiyaitu 191 cm.
C. Menjelaskan
Fenomena Pasang Surut yang Terjadi Di Lokasi Studi
Pasang surut yang terjadi di wilayah
perairan Desa Teluk
Tamiang adalah bentuk dari aktifitas gaya tarik
menarik dan kombinasi gaya gravitasi dari matahari, bulan dan bumi yang
membentuk pola pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala.
Pengukuran dimulai pada tanggal 27 Desember
2018. Dari hasil pengukuran pasang surut di wilayah tersebut, pasang
surut terjadi kisaran dua kali pasang dan dua kali surutdua kali sehari tetapi
tinggi periodenya berbeda, dengan pasang tertinggi 245 cm dan surut terendah 54
cm.
Pasang tertinggi terjadi pada tanggal 27
Desember 2018 pada jam 19:00 dengan kisaran
angka mencapai 245 cm atau 2,45 m dan surut terendah terjadi sekitar pukul 12:00
dengan
kisaran angka 54 cm atau 0,54 m.
3.2. Gelombang
Pengukuran gelombang dilakukan
pada 2 stasiun. Data hasil pengukuran gelombang adalah
sebagai berikut:
A.
Stasiun
1
Titik
koordinat 116o 2’ 54’’ BT 4o
2’ 37’’ LS
Jam
16:29 WITA
Tabel 3. Tinggi Gelombang Staisun 1
No Gel.
|
Puncak (cm)
|
Lembah (cm)
|
Tinggi (m)
|
Periode (T)
|
No. Urut
|
Tinggi (m)
|
Periode (T)
|
1
|
25
|
18
|
0,07
|
4,29
|
1
|
0,14
|
4,29
|
2
|
20
|
15
|
0,05
|
2
|
0,13
|
||
3
|
25
|
19
|
0,06
|
3
|
0,13
|
||
4
|
23
|
17
|
0,06
|
4
|
0,13
|
||
5
|
21
|
11
|
0,1
|
5
|
0,12
|
||
6
|
30
|
23
|
0,07
|
6
|
0,12
|
||
7
|
25
|
17
|
0,08
|
7
|
0,12
|
||
8
|
23
|
16
|
0,07
|
8
|
0,12
|
||
9
|
22
|
14
|
0,08
|
9
|
0,10
|
||
10
|
20
|
15
|
0,05
|
10
|
0,10
|
||
11
|
25
|
13
|
0,12
|
11
|
0,10
|
||
12
|
24
|
12
|
0,12
|
12
|
0,09
|
||
13
|
24
|
17
|
0,07
|
13
|
0,08
|
||
14
|
20
|
13
|
0,07
|
14
|
0,08
|
||
15
|
21
|
16
|
0,05
|
15
|
0,08
|
||
16
|
25
|
18
|
0,07
|
16
|
0,07
|
||
17
|
26
|
13
|
0,13
|
17
|
0,07
|
||
18
|
20
|
15
|
0,05
|
18
|
0,07
|
||
19
|
15
|
10
|
0,05
|
19
|
0,07
|
||
20
|
23
|
13
|
0,1
|
20
|
0,07
|
||
21
|
27
|
14
|
0,13
|
21
|
0,07
|
||
22
|
23
|
18
|
0,05
|
22
|
0,07
|
||
23
|
25
|
13
|
0,12
|
23
|
0,06
|
||
24
|
23
|
10
|
0,13
|
24
|
0,06
|
||
25
|
20
|
14
|
0,06
|
25
|
0,06
|
||
26
|
27
|
19
|
0,08
|
26
|
0,05
|
||
27
|
28
|
14
|
0,14
|
27
|
0,05
|
||
28
|
29
|
17
|
0,12
|
28
|
0,05
|
||
29
|
27
|
18
|
0,09
|
29
|
0,05
|
||
30
|
25
|
15
|
0,1
|
30
|
0,05
|
||
31
|
25
|
18
|
0,07
|
31
|
0,05
|
· Tinggi
gelombang signifikan : 
Hs = 0,127 m
·
Tinggi gelombang
rata-rata :

·
Periode gelombang signifikan:
t = 2 menit 13 detik = 133 detik
n = 31
Ts
Ts = 4,29 s
·
Panjang gelombang:
L
= 1,56 x Ts2
L = 1,56 x 4,292
L = 1,56 x 18,41
L = 28,715 m
·
Energi gelombang :
= 
= 0,0203 Joule
B.
STASIUN
2
Titik Koordinat : 4002’54,704”S - 116003’02,621”E
Jam : 08:37
Tabel 4. Tinggi Gelombang Staisun 2
No. Gelombang
|
Puncak (cm)
|
Lembah
(cm)
|
Tinggi
(m)
|
Periode
(Detik)
|
No
Urut
|
Tinggi
(m)
|
Periode
(T)
|
1
|
40
|
25
|
0,43
|
7,74
|
1
|
0,53
|
7,74
|
2
|
40
|
25
|
0,35
|
2
|
0,46
|
||
3
|
28
|
25
|
0,44
|
3
|
0,46
|
||
4
|
32
|
25
|
0,40
|
4
|
0,45
|
||
5
|
34
|
24
|
0,32
|
5
|
0,44
|
||
6
|
35
|
25
|
0,53
|
6
|
0,43
|
||
7
|
37
|
25
|
0,42
|
7
|
0,43
|
||
8
|
35
|
23
|
0,39
|
8
|
0,42
|
||
9
|
40
|
21
|
0,36
|
9
|
0,42
|
||
10
|
40
|
24
|
0,35
|
10
|
0.42
|
||
11
|
41
|
26
|
0,38
|
11
|
0,41
|
||
12
|
42
|
26
|
0,36
|
12
|
0,41
|
||
13
|
45
|
20
|
0,41
|
13
|
0,41
|
||
14
|
44
|
26
|
0,33
|
14
|
0,40
|
||
15
|
31
|
24
|
0,37
|
15
|
0,40
|
||
16
|
32
|
24
|
0,43
|
16
|
0,39
|
||
17
|
36
|
25
|
0,39
|
17
|
0,39
|
||
18
|
38
|
25
|
0,35
|
18
|
0,38
|
||
19
|
35
|
24
|
0,25
|
19
|
0,38
|
||
20
|
38
|
28
|
0,36
|
20
|
0,37
|
||
21
|
37
|
24
|
0,41
|
21
|
0,36
|
||
22
|
36
|
27
|
0,41
|
22
|
0,36
|
||
23
|
34
|
24
|
0,38
|
23
|
0,36
|
||
24
|
45
|
24
|
0,33
|
24
|
0,35
|
||
25
|
37
|
25
|
0,34
|
25
|
0,35
|
||
26
|
45
|
23
|
0,46
|
26
|
0,35
|
||
27
|
40
|
20
|
0,42
|
27
|
0,34
|
||
28
|
29
|
25
|
0,46
|
28
|
0,33
|
||
29
|
44
|
23
|
0,45
|
29
|
0,33
|
||
30
|
34
|
24
|
0,40
|
30
|
0,32
|
||
31
|
40
|
23
|
0,42
|
31
|
0,25
|
·
Tinggi gelombang
signifikan : 
Hs = 0,42 m
·
Tinggi Gelombang
Rata - rata

·
Periode gelombang signifikan
T = 4 menit= 240 detik
T = t/n
T =
Detik
· Panjang
Gelombang
L = 1,56 ×
T 2
L
= 1,56 X 7,742
L
= 1,56 X 59,90
L
= 93,46 m
· Sudut
Datang Gelombang
· Energi
Gelombang
E=
= 1,77 joule
A. Gelombang
tertinggi dan terendah
Hasil pengukuran Gelombang di Desa Teluk Tamiang pada tanggal 27
November 2018
dilakukan 2 stasiun
dan di setiap
stasiunnya
diambil 31 kali pengamatan. Tinggi gelombang pada stasiun 1 yaitu 0,084 m dan
tinggi signifikan 0,127
m dengan periode gelombang 4,29 s.
Sedangkan Tinggi rata-rata gelombang pada stasiun
2 yaitu 0,39 m. Dan tinggi signifikan 0,42
m dengan periode gelombang 7,74 s.
Kemudian
data yang didapatkan secara insitu diolah untuk mendapatkan nilai tinggi
gelombang rata-rata (Hr), tinggi gelombang signifikan (Hs), periode gelombang
signifikan dan panjang gelombang (L). Dari hasil pengolahan data gelombang
diperoleh tinggi gelombang rata-rata (Hr) 2 stasiun pengamatan selama 31 kali
pengamatan, berkisar antara (0,089 - 0,42 m), dengan arah datang gelombang
sejajar terhadap garis pantai.
B. Fenomena
gelombang di perairan Desa Teluk Tamiang
Bentuk
gelombang di perairan Desa Teluk Tamiang yang dihasilkan cenderung
tidak menentu, bentuk gelombang tergantung pada beberapa sifat gelombang,
periode dan tinggi dimana gelombang dibentuk. Gelombang yang terbentuk akan
bergerak ke luar menjauhi pusat asal gelombang dan merambat ke segala arah,
serta melepaskan energinya ke pantai dalam bentuk empasan gelombang. Atau
partikel – partikel pecahan air yang berwarna putih. Rambatan gelombang ini
dapat menempuh jarak ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai, jenis
gelombang ini disebut (Swell).
Gelombang yang
terjadi di perairan Desa Teluk Tamiang dibentuk oleh angin yang berhembus di
tengah lautan dari arah selatan. Pada bulan November sampai Februari angin
berhembus dari benua Australia menuju benua Asia, karena pada bulan November-
Februari benua Australia mengalami iklim panas dan benua Asia terjadi iklim
dingin, sehingga angin berhembus kencang dari arah selatan benua Australia ke
utara Asia.
3.3. Arus
Berikut adalah hasil
data pengukuran kecepatan arus perairan Laut Teluk Tamiang.
Tabel 5. Kondisi Arus Perairan Laut Teluk Tamiang.
No.
|
Posisi
|
Jam
|
Arah
(o)
|
Jarak (m)
|
Waktu (detik)
|
Kecepatan (m/detik)
|
|
Bujur (BT)
|
Lintang (LS)
|
||||||
1
|
116,05973
|
-4,064758
|
15:22
|
210
|
5
|
258
|
0,0194
|
2
|
116,05984
|
-4,064733
|
15:27
|
212
|
5
|
227
|
0,0220
|
3
|
116,05973
|
-4,064723
|
14:53
|
207
|
5
|
182
|
0,0275
|
4
|
116,05994
|
-4,064685
|
15:06
|
215
|
5
|
83
|
0,0602
|
5
|
116,05427
|
-4,048066
|
14:52
|
205
|
5
|
182
|
0,0275
|
6
|
116,05403
|
-4,048094
|
15:00
|
217
|
5
|
170
|
0,0294
|
7
|
116,07474
|
-4,048897
|
17:10
|
203
|
5
|
183
|
0,0273
|
8
|
116,07462
|
-4,048885
|
17:15
|
202
|
5
|
171
|
0,0292
|
9
|
116,04287
|
-4,048335
|
14:58
|
217
|
5
|
154
|
0,0325
|
10
|
116,04285
|
-4,048344
|
15:09
|
209
|
5
|
168
|
0,0298
|

Gambar 2. Peta Sebaran Arus
Berdasarkan pengamatan
arah arus di Desa Teluk Tamiang, telah didapatkan hasil arah arus antara 2020
(Selatan barat daya) sampai 2170 (Selatan barat daya di kanan
jarum pendek) dengan kecepatan arus tertinggi 0.0602 m/s pada pukul 15:06,
sedangkan kecepatan arus perairan terendah 0,0194 m/s pada pukul 15:22. Tinggi kecepatan arus disebabkan oleh
tingginya kecepatan angin di atas permukaan laut dapat dilihat pada tabel 4 di
atas.
Menurut
letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas
adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus
yang bergerak di bawah permukaan laut. Menurut suhunya kita mengenal adanya arus
panas dan arus dingin. Arus panas adalah arus yang bila suhunya lebih panas
dari daerah yang dilalui. Sedangkan arus dingin adalah arus yang suhunya lebih
dingin dari daerah yang dilaluinya.
Pergerakan massa air
ini ditimbulkan oleh beberapa gaya sehingga sinyal arus merupakan resultan dari
berbagai sinyal yang mempunyai frekuensi terstentu yang dibangkitkan oleh
beberapa gaya yang berbeda-beda. Ada dua jenis gaya utama yang penting dalam
proses gerak (motion) yakni gaya
primer dan sekunder. Gaya primer merupakan gaya yang menyebabkan gerak (motion) antara lain: gravitasi, wind stress, tekanan atmosfer, dan seismic. Sedangkan gaya sekunder
merupakan gaya yang muncul akibat adanya gerak (motion) antara lain: gaya Coriolis dan gesekan (friction).
BAB 4. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada makalah oceanografi fisika
ini adalah sebagai berikut :
1. Pasang tertinggi terjadi di Desa Teluk Tamiang pada jam 19:00 dengan kisaran angka mencapai 245 cm
atau 2,45 m dan surut terendah terjadi sekitar pukul 12:00 dengan kisaran angka
54 cm atau 0,54 m. Jenis pasang surut Desa Teluk Tamiang bertipe harian tunggal, tetapi lebih
condong ke pasang surut tipe campuran tunggal (Mixed tide prevailing diurnal)
2. Pengukuran gelombang
dilakukan 31 kali pengamatan. Gelombang yang terjadi pada stasiun 1 mencapai angka
tinggi rata-rata 0,084 m, tinggi signifikan 0,127 m dan periode gelombang 4,29
s. Sedangkan tinggi rata-rata gelombang pada stasiun 2 yaitu 0,39 m, tinggi
signifikan 0,42 m dan periode gelombang 7,74 s. Hasil pengolahan data gelombang
diperoleh tinggi rata-rata gelombang dari 2 stasiun berkisar antara 0,089 – 0,94
m) dengan arah gelombang sejajar dengan garis pantai.
3. Arah arus yang
berhasil didapat berkisar antara 2020 (selatan barat daya) sampai
2170 (selatan barat daya di kanan jarum pendek) dengan kecepatan
arus tertinggi 0,0602 m/s pada pukul 15:06 dan kecepatan arus terendah 0,0194
m/s pada pukul 15:22. Kecepatan arus disebabkan oleh tinggi rendahnya kecepatan
angin di atas permukaan air.
4.2. Saran
Diharapkan agar pada saat mengerjakan makalah atau
laporan agar lebih teliti dan dipelajari. Hal ini bertujuan agar mahasiswa
mengerti dengan materi yang dibahas pada makalah yang dibuat.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Taslim., Yulius dan M. Furqon Azis Ismail. 2012. Kondisi Arus Pasang Surut di Perairan Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Jakarta : LIPI.
Azis,
M. Furqon. 2006. Gerak Air di Laut.
Jurnal Oseana. Volume 31:4 (9 – 21).
Diskanlut
Kotabaru, 2004. Laporan Tahunan Dinas
Kelautan dan Perikanan Kebupaten Kotabaru Tahun 2004. Pemkab Kotabaru 2005.
50 hal.
Hutabarat,
S. Dan Steward M. E. 1985. Pengantar
Oseanografi. Jakarta : UI Press.
Lanuru,
Mahatma dan Suwarni. 2011. Pengantar
Oseanografi. Makassar : Universitas Hasanuddin
Mahatmawati,
Anugrah Dewi, Mahfud Efendy, Aries Dwi Siswanto, Zainul Hidayah dan Wahyu Andy
Nugraha. 2009. Perbandingan Fluktuasi
Muka Air Laut Rerata (MLR) di Perairan Pantai Utara Jawa Timur dengan Perairan
Pantai Selatan Jawa Timur. Jurnal Kelautan. Volume 2:1.
Musrifin.
2012. Analisis dan Tipe Pasang Surut
Perairan Pulau Jemur Riau. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Volume 40:1.
Nasution,
Sri Bulan. 2013. Hubungan Kualitas Air
Saat Pasang dan Surut Serta Karakteristik Penggunaan Air Sungai Silau Hilir
terhadap Gastroenteritis di Kecamatan Tanjung Balai Utara Kota Tanjung Balai.
Medan : Universitas Sumatera Utara.
Pemkab
Kotabaru, 2005. Program Pembangunan
Daerah Kotabaru Tahun 2001-2005. Bappeda Kabupaten Kotabaru. 177 hal.
Pond
and Pickard. 1983. Introductory Dynamical Oceanography, second ed..
Pergamon Press, Oxford : 329 pp.
Sanjoto,
Tjaturahono Budi. 2012. Perubahan Spasial
Delta Sungai Bodri Sebagai Basis Zonasi Tata Ruang Pesisir Kabupaten Kendal.
Semarang : Universitas Diponegoro.
Sudjono,
Evie H., A. Setiawan, S. Hadi, dan N. S. Ningsih. 2011. Studi Komponen Pasang Surut Perairan Dangkal (Over And Compound Tides)
Model Kanal 1 Dimensi dengan menggunakan Metoda Asimilasi Data Variasional.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Volume 3:1 (1 – 12).
Surinati,
Dewi. 2007. Pasang Surutnya dan Energinya.
Jurnal Oseana. Volume 32:1 (15 – 22).
Komentar
Posting Komentar